Selasa, 26 Mei 2009

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI SUMATRADinamika Pendidikan Islam di Minangkabau

A. Latar Belakang Masalah
Islam sebagai agama rahmah senantiasa mengakomodir kebudayaan dan tradisi lokal yang sesuai dan sejalan dengan sumber primer Islam. Keluwesan Islam menjadi ‘lokomotif’ akselerasi pengembangan kawasan, peradaban, dan penganutnya. Begitu pula komitmen terhadap perjuangan kaum dhuafa sangat tinggi, pemberdayaan dan sikap egalitarian, membuat masyarakat cenderung merespon dan empati kepada Islam.
Mengenai proses kompromi yang terjadi antara Islam dan tradisi lokal, ajaran yang ditekankan dalam Islam cukup berperan dalam kerangka memberikan pondasi dasar terhadap tradisi lokal tersebut. Bahkan terhadap tradisi lokal yang adiluhur dan sesuai dengan faktor lingkungan masyarakatnya, Islam tidak merasa perlu melakukan islamisasi. Islam justru memberikan wewenang lebih besar bagi tradisi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam itu untuk berperan dalam menentukan sebuah hukum. Inilah yang dimaksud dalam rumusan kaidah fiqh, al-âdah al-muhakkamah, sebagai salah satu sumber hukum Islam. Sedangkan terhadap tradisi sosial yang aniaya, zalim dan menyalahi nilai-nilai kehidupan, Islam dengan tegas menolaknya, dan kemudian memberikan batasan-batasan konstruktif –melalui pendekatan budaya– yang sesuai dengan etika dan norma kemanusiaan. Sehingga Islam tidak sampai terkesan 'menghakimi' tradisi sosial itu sebagai obyek, namun sebaliknya, sebagai subyek untuk menciptakan sendiri bentuk yang sesuai dengan kehidupan sosial masyarakatnya. Maka, di sinilah letak kelenturan Islam ketika bersinggungan dengan tradisi lokal.
Pada gilirannya, spirit Islam mengakomodir segala bentuk tradisi lokal di berbagai wilayah yang dimasukinya, merekonstruksi kebudayaan Islam yang lebih kaya dan beragam. Bahkan dalam kadar tertentu, penyerapan ini menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa dipungkiri. Dengan demikian, akan semakin meneguhkan Islam sebagai agama yang universal, kontekstual dan sesuai dengan kondisi zaman dan tempat.
Konsepsi ini menjadi pemicu akselerasi Islam berkembang di wilayah Minangkabau, apalagi secara budaya Minangkabau memiliki falsafah yang dekat dengan Islam, seperti dalam ungkapan “adat bersendi syarak dan syarak bersendi adat, adat bersendi syarak dan syarak bersendi kitabullah”. Ungkapan ini menunjukkan sikap akomodatif budaya dan tradisi yang berkembang di Minangkabau. Kehadiran Islam di Minangkabau mendorong percepatan dalam berkembang sampai datang kolonial Hindia Belanda di Minangkabau pada abad ke 16.
Potensi yang tumbuh dan berkembang di abad 13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan-kerajaan Islam yang syair-syairnya berisikan perjuangan. Ulama-ulama menggelorakan Jihad melawan penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi, yaitu:
1. Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara kekuatan Ulama dengan adat, contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro di Jawa.
2. Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar seorang Guru Besar ke-Indonesia-an di Universitas Hindia Belanda juga seorang orientalis yang pernah mempelajari Islam di Mekkah, dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis.

Strategi kolonial Hindia Belanda memang memberikan dampak besar bagi eksistensi umat Islam order social. Muslim yang bersatu dapat dibubarkan, muslim yang solid dapat diretakkan, muslim yang berjiwa militan dapat dikendorkan. Hal tersebut menjadi tantangan besar bagi umat Islam di Minangkabau dalam mengemban dakwah dan pendidikan Islam. Benturan politik dengan Belanda, terdorong masyarakat Minangkabau terpaksa berbenturan fisik dengan Belanda. Olehnya itu, menjadi menarik kiranya dibahas sejarah social pendidikan Islam di Minangkabau, mulai dari babak awal perjuangan sampai ke ranah kemodernan.

B. Permasalahan
Berdasarkan pemaparan latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang menjadi spketrum pembahasan dalam makalah, yaitu:
1. Bagaimana dinamika sosial Islam di Minangkabau?
2. Bagaimana dinamika pendidikan Islam di Minangkabau?
3. Siapakah tokoh pembaharu pendidikan Islam di Minangkabau?
Ketiga permasalahan di atas akan dikemukakan secara deskriptif, dengan analitis kritis social historis pendidikan Islam.

C. Dinamika Sosial Islam di Minangkabau
Wilayah Minangkabau adalah daerah yang penghasil lada dan emas, di samping padi. Daerah ini dikenal dengan usaha tenun dan kerajinan rakyatnya. Perdagangan emas dan lada sudah ramai berjalan sejak tahun 1347 hingga tahun 1665, yang dilakukan oleh pedagang Minangkabau dengan pedagang Aceh. Pada kurun berikutnya, perdagangan Minangkabau berlangsung dengan Belanda dan Inggris. Hasil tambang emas dan hasil bumi lada rantau Barat Sumatra itu rupanya telah menarik minat bangsa Barat untuk mengadakan monopoli dagang dan menguasai wilayah itu. Objek ekspansi dan kolonialis bangsa Barat adalah wilayah yang hidup subur rempah-rempah, yang menjadi kebutuhan orang-orang Eropa.
Pusat kekuasaan Minangkabau adalah Pagaruyung, namun raja Pagaruyung lebih berfungsi sebagai lambing pemersatu, sedangkan kekuasaan sesungguhnya berada di bawah para penghulu adat. Balai adat yang terdiri dari para penghulu berkuasa memutuskan sesuatu, dan menentukan langkah-langkah politik di nageri (desa) masing-masing. Para penghulu bukan wakil raja di daerahnya tetapi pemimpin yang dipilih sesuai dengan “sakato alam” atau persetujuan masyarakat.
Kedudukan raja Paguruyung selain sebagai lambang, juga pengikat adat. Ia dibantu oleh Basa Ampek Balai, terdiri dari Datok Bandaro di Sungai Tarab (Ketua adat), Tuan Makhudum di Sumanik (Menteri Kerajaan atau rantau), Tuan Kadi di Padang Ganding (Menteri Urusan Agama), dan Tuan Gadang di Batipuh (Menteri Urusan Keamanan). Raja Minangkabau yang tiga sila yaitu Raja Alam di Paguruyung, Raja Ibadat di Simpur Kudus, dan Raja Adat di Biu, mempunyai kedaulatan di rantau, yaitu pesisir Barat dan Timur. Di pesisir ini kekuasaan nyata bukan di tangan penghulu, tetapi para rajalah yang berkuasa. Raja sebagai koordinator dari penguasa-penguasa lokal, dan keputusan yang menyangkut Negara di bawah koordinasi raja.
Berdasarkan berita Tomes Pires (1512-1515), dapat diketahui bahwa daerah-daerah di bagian pesisir Sumatra Utara dan timur Selat Malaka, yaitu daerah Aceh sampai Palembang sudah banyak terdapat masyarakat dan kerajaan-kerajaan Islam. Akan tetapi, daerah-daerah yang belum Islam juga masih banyak, yaitu Palembang dan daerah-daerah Pedalaman. Proses Islamisasi ke daerah-daerah pedalaman Aceh, Sumatra Barat, terutama terjadi sejak Aceh melakukan ekspansi politiknya pada abad ke-16 dan 17 M.
Masuknya Islam di Minangkabau terjadi perbedaan pendapat yang bervarian. Ada pendapat yang menyatakan pada tahun 1250 M, 1500 M, dan 1650 M. Akan tetapi, fakta sejarah lain menunjukkan bahwa ulama pertama yang menyebarkan Islam di Minangkabau adalah Syekh Burhanuddin pada tahun 1646. Dengan demikian, Islam masuk ke Minangkabau terjadi sebelum tahun 1646. Hal ini dapat dilihat dalam sejarah bahwa ada tiga ulama Minangkabau yang pada era sebelum Syekh Burhanuddin yaitu Datuk Ri Bandang, Datuk Patimang, dan Datuk Ri Tiro sekitar tahun 1603 telah menyebarkan Islam di Sulawesi. Ketiga muballigh ini memiliki jasa besar dalam penyebaran Islam di Sulawesi dan Kalimantan Timur.
Ketika Islam masih dalam proses ekspansi dan konsolidasi di wilayah Minangkabau, Hindia Belanda datang ke Nusantara dan melakukan berbagai kegiatan politik, ekonomi, dan agama. Hal ini tentunya dapat menghambat kegiatan sosial keagamaan masyarakat Minangkabau. Kedatangan Belanda ke wilayah nusantara pada abad 17, wilayah Sumatra seperti Minangkabau, Jambi, Riau, dan Palembang mengalami kemunduran kedaulatan dan dalam rongrongan intervensi kolonialisme, kecuali Aceh yang tetap masih bertahan dan eksis. Akibatnya, hubungan masyarakat pribumi dan kolonial sering mengalami benturan fisik, sebagaimana yang dilakukan Imam Bonjol dalam perang Paderi (1821-1837).

D. Dinamika Pendidikan Islam di Minangkabau
Lembaga pendidikan yang termasyhur di Minangkabau adalah Surau. Istilah surau di Minangkabau sudah dikenal sebelum datangnya Islam. Surau dalam sistim adat Minangkabau adalah kepunyaan suku atau kaum sebagai pelengkap rumah gadang yang berfungsi sebagai tempat bertemu, berkumpul, rapat, dan tempat tidur bagi anak laki-laki yang telah akil baligh dan orang tua yang uzur. Bahkan surau menjadi tempat menginap bagi tamu perantau. Transformasi fungsi surau sebagai tempat rapat, berkumpul, dan sebagainya menjadi lembaga pendidika Islam yang sangat efektif melihat fungsi surau dapat menjadi momentum pembelajaran pendidikan Islam.
Kehadiran surau pertama kali dalam lembaga pendidikan Islam diperkenalkan oleh Syekh Burhanuddin, di Ulakan-Pariaman, sebagai tempat melaksanakan shalat dan pendidikan tarekat (suluk), dengan cepat dapat bersosialisasi secara baik dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Pengembangan lembaga pendidikan surau menjadi pusat transformasi ilmu identik dengan fungsi masjid di zaman Rasulullah, yaitu Surau menjadi term of reference dalam peningkatan kualitas kehidupan bermasyarakat.
Fungsi surau akan semakin kuat posisinya karena struktur masyarakat Minangkabau yang menganut sistim matrilineal, menurut ketentuan adat bahwa laku-laki tak punya kamar di rumah orang tua mereka, sehingga mereka harus tidur di surau. Surau juga menjadi tempat berkumpulnya anak laki-laki yang telah baligh dan persinggahan bagi para perantau. Kenyataan ini menyebabkan surau menjadi tempat amat penting bagi pendewasaan generasi Minangkabau, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun ketrampilan praktis. Dengan demikian, Surau menjadi lembaga pendidikan Islam yang amat penting di Minangkabau.
Lembaga pendidikan Islam di Surau menggunakan sistim halaqah . Ada dua jenjang pendidikan surau, yaitu:
a. Pengajaran al-Qur’an, yaitu pengenalan huruf hijaiyah, membaca al-Qur’an, melagu, kasidah, barzanji, tajwid, dan kitab parukunan.
b. Pengajian Kitab, yaitu ilmu sharaf dan nahu, ilmu fikhi, ilmu tafsir, dan ilmu-ilmu lainnya.

Dalam posisinya sebagai lembaga pendidikan Islam, surau sangat strategis, baik dalam proses pengembangan Islam maupun pemahaman terhadap ajaran-ajaran Islam. Bahkan surau telah mampu mencetak para ulama besar Minangkabau dan menumbuhkan semangat nasionalisme, terutama dalam mengusir kolonialisme Belanda. Di antara alumni pendidikan Surau adalah Haji Rasul, AR. At Mansur, Abdullah Ahmad, dan Hamka. Alumni Surau telah banyak berkiprah dalam perjuangan bangsa dan pencerdasan intelektual dan spiritual dari kebodohan dan kejumudan. Sumbangsih Surau kepada bangsa menjadi mainstream pergerakan dan pergolakan pendidikan Islam di Nusantara.
Lembaga pendidikan Islam Surau mulai surut peranannya karena disebabkan beberapa hal, yaitu:
a. Selama perang Padri banyak Surau yang terbakar dan Syekh yang meninggal.
b. Belanda mulai memperkenalkan sekolah nagari.
c. Kaum intelektual muda muslim mulai mendirikan madrasah sebagai bentuk ketidaksetujuan mereka terhadap praktik-praktik surau yang penuh dengan khurafat, bid’ah dan takhayul.

Pada tahun 1803, H. Miskin, H. Sumanik, dan H. Piobang pulang dari Mekah (di kala itu Wahabiyah telah duduki Mekah) dan setibanya di kampungnya, ia melarang bermacam-macam kejahatan dan tradisi – yang tidak sesuai dengan Islam yang sempurna, -seperti judi sabung ayam, minum tuak dan sebagainya, dan ikut bergabung dalam perang Paderi melawan kaum ‘Adat’ di Kota Lawas. Pembaharuan yang dilakukan kaum Paderi telah merubah paradigma keagamaan masyarakat Minangkabau, terbukti banyaknya didirikan lembaga pendidikan Islam yang bercorak modernis.
Ada beberapa lembaga pendidikan Islam di Minangkabau:
1. Perguruan Adabiah
Pada tahun 1907, H. Abdullah Ahmad mendirikan lembaga pendidikan dengan nama Adabiah School. Perguruan ini hanya bertahan 2 tahun karena mendapat reaksi dari masyarakat tradisional, sehingga ditutup. Tidak lama kemudian, pada tahun 1909 H. Abdullah Ahmad mendirikan kembali lembaga pendidikan dengan nama Perguruan Adabiah di Padang.
Sistim pendidikan Perguruan Adabiah mengadopsi sistim pendidikan Hindia Belanda, dan mengambil pendidikan agama sebagai mata pelajaran wajib. Kolaborasi pelajaran umum dan agama, dan tingkat pendidikan sekolah dasar. Pada tahun 1950 didirikan SMP, kemudian tahun 1958 didirikan SMA, dan pada tanggal 22 Agustus 1984 didirikan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) sampai sekarang.
2. Sumatra Thawalib
Sumatra Thawalib awalnya merupakan perkumpulan koperasi dan berkembang menjadi sebuah perguruan pada tahun 1918 di Padangpanjang dengan sistim pendidikan yang diterapkan adalah halaqah. Kemudian pada tahun 1921 beralih dari sistim halaqah ke sistim klasikal, lama studi 7 tahun, pembenahan manajemen sekolah, kurikulum dan pembelajaran, administrasi pendidikan, serta tenaga edukasi.
Sumatra Thawalib kurang mendapat respon dari masyarakat Minangkabau, karena sistim pendidikan surau sudah tereduksi, dan corak berpikir yang bergeser dari tradisi Minangkabau. Kemudian pada tahun 1927 terjadi konspirasi politik yang berhaluan komunis di Sumatra Thawalib, lalu bergeser ke ‘ranah’ gerakan politik, sehingga pada tahun 1930 dirubah nama dengan Persatuan Muslimin Indonesia (PMI), dan pada tahun 1932 singkatan PMI diganti dengan PERMI.
3. Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Candung
Lembaga pendidikan MTI ini didirikan pada tanggal 5 Mei 1928 (15 Zulkaidah 1346 H) oleh Syekh H. Soelaiman ar-Rasuli di Candung (Bukit Tinggi) dan sasarannya sebagai pemersatu sekolah-sekolah yang dibangun ulama tradisional (kaum Tuo) di Minangkabau. Kemudian mazhab resmi pelajaran agamanya adalah mazhab Syafi’iy dan I’tikad Ahlussunnah wal jama’ah. MTI menjadi induk madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah seluruh Indonesia dan Partai Islam PERTI selama 23 tahun (1946-1969).
Seiring akselerasi ilmu pengetahuan dan tuntutan masyarakat, MTI mengalami dinamika, misalnya dengan menyiapkan 3 level pendidikan, MI, MTs., dan MA. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum nasional, pelajaran klasikan tetap dipertahankan. MTS tetap eksis sampai sekarang di bawah pimpinan Buya Bahruddin ar-Rasuli.
4. Arabiah School
Arabiah school didirikan pada tahun 1918 di Agam oleh Syekh Abbas Ladang dengan jenjang pendidikan dasar (elementer). Sekolah ini tidak lama berjalan karena tidak mendapat respon dari masyarakat. Hal ini diakibatkan karena sistim pendidikan yang diterapkan tidak sesuai dengan sistim pendidikan surau. Eksistensi sekolah ini tampak bersifat revolusioner sistem pendidikan Islam dari tradisional menjadi klasikal. Masyarakat Minangkabau menjadi ‘kaget’ dan penuh tuduhan kepada pihak sekolah berkeinginan tatanan tradisi dan budaya luhur.
5. Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI)
Awalnya yakni tahun 1918, PGAI merupakan perkumpulan guru-guru agama Islam sebagai pengikat kaum cerdik cendekia, baik kaum muda maupun kaum Tua di Minangkabau. PGAI didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad, dengan maksud sebagai wadah konsolidasi guru agama Minangkabau dalam meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan Islam di Minangkabau. PGAI sebuah pergerakan di sektor sosial, dan pada tanggal 1 April 1931 menjadi gerakan pendidikan dengan pendirian intitusi pendidikan Normal Islam.
Sistim pendidikan Normal Islam melakukan kolaborasi pendidikan agama dan umum dengan presentase 12 % : 88 %. Akan tetapi, jumlah jam pelajaran agama sebanyak 41 %, dan umum sebanyak 59 %. Pelajaran agama dibekali dengan bahasa Arab dengan guru alumni Mesir dan pelajaran umum didirikan laboratorium fisika, kimia, serta pendidikan keguruan.
Pada tanggal 9 Desember 1940, PGAI mendirikan pendidikan tinggi di kompleks PGAI Jati Padang, dengan membuka dua fakultas yakni fakultas syari’ah dan fakultas pendidikan dan bahasa Arab. PGAI mencapai kegemilangan pada tahun 1958, kemudian mulai merosot ketika terjadi pemberontakan PRRI pada tahun yang sama.
6. Normal Islam (Normaal Islam)
Normal Islam didirikan oleh Dr. H. Abdullah Ahmad pada tanggal 1 April 1931 di Padang dengan gagasan H. Abdullah Ahmad dan H. Abdul Karim Amrullah, dan dipimpin oleh Mahmud Yunus. Institusi ini setingkat SMA dan diterapkan lama belajar selama 4 tahun, setiap tahun siswa diwajibkan mengikuti 17 mata pelajaran dengan 34 jam perminggu. Dalam kurun waktu 15 tahun (1931-1946), normal Islam melahirkan alumni kurang lebih 750 alumni. Normal Islam terpaksa ditutup pada tahun 1946 akibat agresi Belanda I terjadi di Padang.
7. Madras School
Lembaga ini didirikan oleh Syekh Mohammad Thaib Umar pada tahun 1910 di Sungayang (Batusangkar). Madras School sebagai jenjang menuju pengajian kitab-kitab besar. Pada tahun 1913, Madras School terpaksa ditutup karena tidak adanya siswa baru. Kemudian pada tahun 1918, sekolah ini didirikan kembali oleh Mahmoed Joenoes, dan pada tahun 1923 diganti nama dengan Diniyah School, dan pada tahun 1931 diganti nama dengan al-Djami’ah Islamiyah.
8. Universitas Islam Darul Hikmah
Institusi ini didirikan 27 Rajab 1373 H (1953) dengan nama Perguruan Islam Tinggi Darul Hikmah yang berkedudukan di Bukit Tinggi, dengan satu fakultas yaitu Fakultas Hukum Islam. Pada tanggal 12 Oktober 1957, intitusi ini diganti nama menjadi Universitas Islam Darul Hikmah dan dengan bertahap membuka lima fakultas di berbagai daerah, yaitu fakultas Hukum Islam di Bukit Tinggi (27 Rajab 1373/1953), Fakultas Ushuluddin di Padangpanjang (12 Agustus 1956), Fakultas al-Dakwah wal Irsyad di Payakumbuh (23 Juni 1957), Fakultas Fiqhi wa al-Ushul di Solok (6 Agustus 1957), dan Fakultas di Padang (9 September 1957).
Program pendidikan terdiri atas dua, yaitu program 3 tahun dengan syahadah ‘alimiyah (M.Ed.), dan program 5 tahun dengan syahadah ‘aliyah (B.Ed.).

9. Training College
Lembaga ini didirikan oleh Nasaruddin Toha pada tahun 1934 di Payakumbuh. Pendidikan ini merupakan semi akademi karena muridnya adalah alumni ‘Aliyah (SMA Islam). Visi lembaga ini adalah persiapan pemimpin bangsa dalam kerangka pergerakan kemerdekaan Indonesia. Olehnya itu, diperlukan kader pemimpin bangsa yang berilmu pengetahuan dan memiliki nasionalisme yang tinggi.
Pengembangan pendidikan Islam di masyarakat Minangkabau dilakukan dengan pendidikan nonformal, yaitu melalui media massa. Media Massa, baik surat kabar maupun majalah berkembang dengan baik di Minangkabau:
1. Majallah al-Imam didirikan oleh Syekh Thahir Djalaloeddin al-Minangkabawi al-Azhari bersama Syekh Muhammad Salim al-Kalali di Singapura. Majalah al-Imam sebagai corong pembaharu dan sebagai wadah dalam menyerang kaum tradisionalis.
2. Majallah al-Munir diterbitkan oleh Syekh H. Abdoellah Ahmad pada tahun 1911-1916 di Padang. Majalah ini sebagai corong pembaharuan Islam dan gerakan puritanisme Islam.
3. PERMI mendirikan beberapa surat kabar dan majalah. Adapun surat kabar yang diterbitkan di bawah naungan PERMI adalah Medan Rakyat diterbitkan di Padang bulan September 1932, Barisan Kita diterbitkan di Payakumbuh tahun 1932, dan KRIS diterbitkan di Bukit Tinggi tahun 1932. Kemudian majallah adalah Medan Putri diterbitkan di Bukit Tinggi tahun 1932, Semangat Muda diterbitkan di Padang tahun 1932, dan Pahlawan Muda diterbitkan pada tahun 1932.

E. Tokoh Pembaharu Pendidikan Islam di Minangkabau
Masyarakat Minangkabau berkembang dengan baik lembaga pendidikan Islam. Dinamika lembaga pendidikan Islam tidak terlepas dari peran tokoh dan pergulatan intelektualnya dalam melaksanakan pendidikan Islam di Minangkabau. Tokoh pendidikan Islam Minangkabau, di antaranya adalah:
1. Abdullah Ahmad
Abdullah Ahmad tokoh pembaru pendidikan Islam di Sumatra Barat yang pertama kali memperkenalkan sistim madrasah, yaitu model pendidikan agama yang menggunakan kelas yang dilengkapi bangku, meja, papan tulis, kurikulum yang terstandar, ijazah, dan visi lulusannya yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Lulusannya selain menguasai ilmu agama Islam, juga menguasai ilmu pengetahuan umum, ketrampilan, mampu berbahasa asing khususnya bahasa Arab dan Inggris.
Gagasan pendidikan Abdullah Ahmad dapat dilihat sebagai berikut:
a. Pemerataan pendidikan, yakni semua warga berhak mendapat dan melanjutkan pendidikan formal.
b. Kurikulum, yaitu dipadukannya pelajaran agama dan umum kemudian disusun secara sistimatis sesuai jenjang dan kelas.
c. Dana pendidikan, yaitu perlunya pendanaan (donator) yang jelas dalan rangka kelancaraan roda pendidikan.
d. Kemodernan, yakni sikap keterbukaan yang objektif dan kritis, misalnya bolehnya siswa non Islam belajar di Adabiyah School.
e. Metode pengajaran, yakni diterapkan debating club (diskusi) sebagai prasyarat dialektika pemikiran anak didik dalam menyelami samudra keilmuan.

Abdullah Ahmad di samping sebagai pendidik dan pendiri lembaga pendidikan Islam, juga sebagai penulis yang produktif. Ia mendirikan majallah al-Munir bersama H. Abdul karim Amrullah (1911), mendirikan organisasi PGAI. Ini menunjukkan betapa kegigihannya dalam memperjuangkan kemajuan intelektual umat. Berkat kerja keras, kegigihan ataupun prestasinya dalam bidang pendidikan dan kemasyarakat, pada tahun 1926 bersama-sama dengan H. Abdul Karim Amrullah, memperoleh anugrah Doctor Honoris Causa dalam bidang keagamaan dari salah satu lembaga pendidikan Tinggi Islam di Kairo, Mesir.
2. Abdul Karim Amrullah
Syekh H. Abdul Karim Amrullah merupakan cendekiawan muslim dan tokoh pembaharu di Minangkabau dan pelanjut pejuang Paderi. Ketika pulang dari Mekah pada tahun 1901, ia melanjutkan gerakan pembaharuan yang telah dirintis oleh kaum Paderi. Abdul Karim Amrullah memiliki gagasan pendidikan yang lebih modernis. Awalnya direvisi kurikulum pendidikan Islam dengan memasukkan pelajaran ‘umum’ ke sekolah. Ilmu-ilmu agama dan bahasa yang dimasukkan dalam kurikulum pendidikan Islam ialah ilmu nahwu, syaraf, fiqhi, tafsir, tauhid, hadits, musthalah hadits, mantiq (logika), ma’ani, bayan, badi’, dan ushul fiqhi. Ia menyusun kurikulum berdasarkan tingkat atau kelas, dan sistim pendidikan bersifat klasikal.
Dalam pembelajaran, Abdul Karim Amrullah mengembangkan sistim klasikal dan menggunakan metode diskusi dan Tanya jawab. Kepada murid-murid ditanamkan semangat berdiskusi, berpikir bebas, membawa, memahami, berkelompok dan berorganisasi, serta murid-murid dirangsang untuk bertanya dan berdebat dengan guru. Dengan semangat berdiskusi, berdebat dan bertanya, maka timbul dari diri murid semangat untuk menggali ilmu sendiri (self activity).
Abdul Karim Amrullah sangat menekankan pentingnya pendidikan berorganisasi pada murid. Murid didorong untuk mengikuti ceramah-ceramah yang terkait dengan organisasi dan mobilisasi. Ia berpandangan bahwa, dengan berorganisasi segala sesuatu akan mudah dicapai, sebaliknya usaha yang bersifat perseorangan tidak terorganisir, parti akan berkesudahan dengan kegagalan.
3. Zainuddin Labay el-Yunusi
Zainuddin Labay el-Yunusi adalah salah seorang pejuang, pendidik, dan mubaligh Minangkabau yang gigih dalam harkat dan martabat rakyat Minangkabau dari kebodohan, churafat, tahayul, bid’ah dan keberanian menghadapi kolonialisme. Beliau mendirikan Diniyah School dengan menerapkan sistim modern, yakni menggunakan sistim klasikal dan kurikulum yang teratur. Kolaborasi pendidikan agama dan umum menjadikan output berkualitas yaitu memiliki pengetahuan agama dan umum yang menjadi kebutuhan mendasar dalam membangun masyarakat dan bangsa.
Dalam pembelajaran ilmu umum, Zainuddin cenderung mengambil ide pembaharuan pendidikan yang dikembangkan Muhammad Kamil Pasya, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Kemudian, pelajaran agama, selain yang diajarkan kitab karangan Zainuddin, juga diambil dari literature Mesir, sedangkan ilmu umum diambil dari literatur Barat. Selain pelajaran agama dan umum, pelajaran bahasa Arab juga sangat ditekankan dalam proses pembelajaran di sekolah, karena bahasa Arab sebagai ilmu alat dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Di sisi lain, Zainuddin juga mendirikan majallah al-Munir sebagai media pendidikan bagi masyarakat muslim. Melalui tulisannya, ia mencoba membuka wawasan umat Islam tentang universalitas agama Islam. Bahkan dibeberapa tulisannya di majallah al-Munir, menuai banyak sorotan dari kalangan ulama di Minangkabau. Ia justru dituduh sebagai ulama yang sesat dan ulama Wahabi yang telah keluar dari mazhab ahlu sunnah wal jama’ah.
4. Rahmah el-Yunusiyah
Rahmah el-Yunusiah merupakan tokoh perempuan yang memperjuangkan pendidikan bagi putrid dan sejajar dengan dengan putra. Perjuangan pendidikan bagi perempuan menjadi ‘lokomotif’ bagi peningkatan peran serta perempuan dalam pembangunan dan mengeliminir keterbelakangan. Keterpurukan posisi perempuan (Minangkabau) mendorong Rahmah mendirikan Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang pada bulan November 1923.
Konsepsi pendidikan Rahmah ialah pendidikan untuk semua, baik laki-laki maupun perempuan. Menurutnya, laki-laki dan perempuan yang membedakannya hanyalah taqwa (dalam QS. 49:13). Prinsip ini terrealisasi dalam Madrasah Diniyah Putri dengan menggunakan sistim modern yaitu mengakomodir kurikulum umum untuk diajarkan di sekolah. Secara konfrehensif, Rahmah el-Yunisiyah terlihat jelas dalam konsep ‘tri tunggal pendidikan perempuan’ yaitu pendidikan di sekolah, pendidikan di asrama, dan pendidikan di masyarakat.
5. Syaikh Ibrahim Musa Parabek
Syaikh Ibrahim Musa Parabek dari Sumatra Barat yang menjadi sosok pembaru pendidikan, yang berhasil mengubah adat-istiadat masyarakat menjadi masyarakat yang beradab dan berakhlak mulia dengan pendekatan persuasif dan lemah lembut. Ia memiliki perhatian yang besar terhadap pembinaan mental spiritual masyarakat dengan menggunakan pendekatan yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya. Untuk mewujudkan cita-citanya, ia mendirikan Sumatra Thawalib dengan tujuan untuk menghimpun para anak didik yang mengikuti pendidikan yang diberikannya.
Usaha-usaha yang dilakukan Syaikh Ibrahim Musa Parabek dalam pembaruan pendidikan Islam di antaranya adalah menggunakan sistim klasikal sebagai pengganti sistim halaqah, mempertajam tujuan pendidikan yang diharapkan untuk mencetak kader ulama yang tafaqquh fi al-din, membenahi kurikulum dengan memadukan sistim kurikulum yang ada di surau dan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat saat itu, melengkapi sarana dan prasana yang memadai bagi terwujudnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien, dan diterapkan sistim evaluasi yang ketat untuk mengetahui kemampuan siswa.
6. H. Abdul Karim Amrullah (Hamka)
Hamka adalah seorang ulama Minangkabau yang memiliki pemikiran modernis. Hamka dengan sikap inklusif terhadap dinamika dan gagasan pembaharuan, mempengaruhi corak berpikirnya dalam dunia pendidikan Islam. Hamka berkeinginan masyarakat keluar dari sistim pendidikan yang jumud dan segera direnovasi dan beradaptasi dengan sistim pendidikan modern.
Hamka berpandangan bahwa setidaknya ada tiga institusi yang bertugas dan bertanggungjawab dalam pelaksanaan pendidikan, yaitu lembaga pendidikan informal, lembaga pendidikan nonformal, dan lembaga pendidikan formal. Lembaga pendidikan informal merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama, sebagai jembatan dan penunjang bagi pelaksanaan pendidikan selanjutnya (formal dan nonformal). Ketiga lembaga pendidikan seyogyanya bersinergi dan saling mengisi untuk membentuk integritas kepribadian anak yang equilibrum. Konsep konfrehensif pendidikan ini menunjukkan bahwa Hamka menjadi sosok pendidik yang menginginkan integrasi keilmuan (islamisasi sains) dan sistim pendidikan modern.
Agar terwujud hasil pendidikan Islam yang baik, menurut Hamka, seharusnya dibenahi sumber daya pendidik yang memiliki kecakapan, akhlak, dan skill yang baik. Kemudian metode dan materi pendidikan Islam harus disesuaikan dengan kebutuhan anak didik dan dinamika zaman. Materi pendidikan setidaknya mencakup ilmu-ilmu agama, ilmu-ilmu umum, ketrampilan, dan kesenian. Kemudian, menurut Hamka, model pendidikan yang ideal adalah model pesantren, yang mana memiliki tempat belajar, masjid tempat melaksanakan ibadah, dan asrama. Penekanan pentingnya asrama, agar anak didik bias setiap saat melakukan diskusi, diawasi, dan dibimbing secara intensif.
7. Mahmud Yunus
Mahmud Yunus seorang ulama Minangkabau yang mendapat pendidikan Islam di al-Azhar dan Darul Ulum di Mesir. Ia dengan masif memperjuangkan ide-ide pembaharuan sistim pendidikan Islam di Minangkabau. Ia berusaha menerapkan sistim modern dalam pendidikan Islam di sekolah. Ia mencoba menyeimbangkan pelajaran umum dan pelajaran agama di sekolah dengan pengantar bahasa Arab.
Dalam proses pembelajaran, Mahmud Yunus tidak mengambil jarak dengan anak didiknya, berbeda dengan sistim pesantren di Jawa. Ia sangat menekankan penguasaan metode bagi seorang guru. Hal ini sesuai dengan ungkapannya “at-Tariqah ahammu min al-maddat” (metode lebih penting daripada materi pelajaran). Adapun kurikulum yang disusun untuk diterapkan di Normal Islam ialah ilmu-ilmu agama, bahasa Arab (insyak, muthalaah, mahfuzhat, qawaid, adabul luqhah), ilmu-ilmu umum (aljabar, ilmu ukur, ilmu kimia, ilmu hayat, ekonomi, sejarah Indonesia dan dunia, ilmu falak, tata Negara, bahasa Inggris/Belanda, Gerak Badan, ilmu pendidikan, ilmu jiwa, ilmu kesehatan, dan menggambar). Kemudian alokasi waktu dapat dipetakan yaitu 15 % untuk pelajaran agama, 20 % bahasa Arab, dan 65 % pelajaran umum. Namun demikian, Mahmud Yunus berpandangan bahwa sasaran utama pendidikan ialah aspek pembentukan kepribadian dan pendidikan moral.

F. Simpulan
Dari uraian singkat di atas, dapatlah ditarik simpulan sebagai berikut:
1. Dinamika sosial Islam di Minangkabau mengalami perkembangan dengan baik, karena tingginya respon masyarakat terhadap pendidikan, terjadinya interaksi antara tokoh ulama dan pendidik dengan dunia luar, apakah melalui pendidikan di Mekah dan Mesir atau hasil interaksi dengan pemikiran kolonial, yang tentunya memberikan corak berpikir yang dapat berdialektika dengan perkembangan zaman.
2. Dinamika pendidikan Islam di Minangkabau cukup baik, yakni awalnya sistim pendidikan surau dengan model halaqah, menjadi sistim pendidikan modern dengan model klasikal, revisi kurikulum dengan penambahan mata pelajaran agama dan diajarkan juga mata pelajaran umum, peningkatan SDM tenaga pendidik, dan dilakukan evaluasi pembelajaran yang menjadi tolok ukur keberhasilan pelaksanaan pendidikan Islam.
3. Tokoh pembaharu pendidikan Islam di Minangkabau di antaranya adalah Abdullah Ahmad, Abdul Karim Amrullah (H. Rasula), Zainuddin Labay el-Yunusi, Rahmah el-Yunusiyah, Syaikh Ibrahim Musa Parabek, H. Abdul Karim Amrullah (Hamka), dan Mahmud Yunus. Tokoh pendidikan Islam asal Minangkabau ini memberikan corak bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia, khususnya dalam melakukan modernisasi pendidikan Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik, Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1987)
---------, dan Mohammad Hisyam, Sejarah Umat Islam di Indonesia, Edisi Revisi, (Cet. 2, Jakarta: MUI kerjasama dengan Pustaka Umat, 2003)
Azra, Azyumardi Surau di Tengah Krisis: Pesantren dalam Persfektif Masyarakat, dalam Dawam Rahardjo (Ed.), “Pergulatan Dunia Pesantren: Membangun dari Bawah”, (Jakarta: P3M, 1985)
---------, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Ciputat: Logos, 1999)
Bahy, Muhammad al-, Al-Qurân... Wa al-Mujtama’ (Kairo: Maktabah Wahbah, cet II, 1986)
Boechari, Sidi Ibrahim, Pengaruh Timbal Balik antara Pendidikan Islam dan Pergerakan Nasional di Minangkabau (Jakarta: Gunung Tiga, 1981)
Departemen Agama RI., Ensiklopedia Islam di Indonesia, (Jakarta: Proyek Depag RI, 1992/1993)
Dobbin, Christine, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra 1784-1847, Diterjemahkan oleh Lilian D. Tedjasukandhana dengan judul “Kebangkitan Islam dalam Ekonomi Petani yang Sedang Berubah: Sumatera Tengah 1784-1847,” (Jakarta: INIS, 1992)
Edwar (Ed.), Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatra Barat, (Padang: Islamic Centre Sumatra Barat, 1981)
Gazalba, Sidi, Pendidikan Umat Islam: Masalah Terbesar Kurun Kini Menentukan Nasib Umat, (Jakarta: Bharatara, 1970)
Hamka, Falsafah Hidup, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983)
---------, Lembaga Hidup, (Djakarta: Djajamurni, 1962)
http://norma1087.wordpress.com/sejarah-islam-di-indonesia/24/11/08
Kuntowidjojo, “Perang Paderi”, dalam Sartono Kartodirdjo (Ed.), Sejarah Perlawanan-Perlawanan Terhadap Kolonialisme, (Jakarta: Pusat Sejarah ABRI Dephankam, 1973)
Nata, Abuddin, (Ed.), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Grasindo, 2001)
----------, Sejarah Pendidikan Islam: Pada Periode Klasik dan Pertengahan, Ed. 1, (Cet. 1, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004)
----------, Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, Ed.1, (Cet. 1, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005)
Nazwar, Akhria, Syekh Ahmad Khatib: Ilmuwan Islam di Permulaan Abad Ini, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983)
Nizar, Samsul., (Ed.), Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia,Edisi I, (Cet. 1, Jakarta: Kencana, 2007)
---------, Sejarah dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam di Indonesia, (Ciputat: Quantum Teaching, 2005)
Noer, Dalier, Gerakan Modern Islam, (Jakarta: Logos, 1999)
R.Z. (Ed.), Sejarah Nasional Indonesia IV, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984)
Radjab, Muhammad, Perang Paderi di Sumatra Barat (1803-1838), (Djakarta: PN. Balai Pustaka, 1964)
Rahmat, M. Imadaddun, dkk, “Islam Pribumi; Mencari Wajah Islam Indonesia”, dalam Jurnal Tashwirul Afkar, Edisi No. 14 Tahun 2003 (Jakarta Lakpesdam 2003)
Ramayulis, H., dan Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam: Mengenal Tokoh Pendidikan Islam di Dunia Islam dan Indonesia, (Cet.1, Ciputat: Quantum Teaching, 2005)
Steenbrink, Kareel A., Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke – 19, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984)
Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Jambatan, 2002)
Tjandrasasmita, Uka., (Ed.), Sejarah Nasional Indonesia III, (Jakarta: PN. Balai Pustaka, 1984)
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, ed. 1, (Cet. 16, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004)
Yunus, Mahmud, Pokok-pokok Pendidikan dan Pengajaran, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1980)
----------, Sejarah Pendidikan di Indonesia, (Cet. 4, Jakarta: Mutiara, 1995)
----------, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Cet. 3, Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1992)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar